Kancah Pendidikan Indonesia yang Diabadikan dalam Hari Guru Nasional

Penulis: Elfira Zigrila | Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Setiap tanggal 25 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional sebagai momentum penghormatan terhadap peran strategis guru dalam perjalanan pendidikan nasional. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan simbol apresiasi atas dedikasi para guru dalam membentuk masa lalu yang bermakna serta menyiapkan generasi bangsa yang kompeten di masa depan. Guru tidak hanya hadir sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi juga sebagai pembimbing, motivator, dan teladan bagi generasi muda.

Sejarah pendidikan Indonesia mencerminkan perjalanan panjang yang sarat dengan perjuangan. Sejak masa penjajahan, pendidikan telah menjadi sarana penting dalam membangun karakter, kesadaran kebangsaan, dan pengetahuan masyarakat. Guru-guru pada masa itu menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari minimnya fasilitas hingga tekanan sosial dan politik. Namun, keterbatasan tersebut tidak pernah memadamkan semangat mereka untuk mendidik. Peran guru tidak semata-mata mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai moral, budaya, dan rasa cinta tanah air.

Hari Guru Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 1994, yang menetapkan tanggal 25 November sebagai hari peringatan guru. Tanggal ini bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Filosofi beliau yang terkenal, “Tut Wuri Handayani”, bermakna memberikan dorongan dari belakang. Prinsip ini menjadi landasan utama praktik pendidikan di Indonesia, menegaskan bahwa guru berperan sebagai pengarah dan pendorong agar peserta didik berkembang secara mandiri dan optimal.

Memasuki era modern, peran guru semakin kompleks dan menantang. Guru dituntut tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga teknologi, pendekatan psikologis, serta metode pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Tantangan ini sangat terasa pada masa pandemi COVID-19, ketika sistem pembelajaran beralih secara mendadak ke pembelajaran daring. Kondisi tersebut menuntut kreativitas, kesabaran, dan komitmen tinggi dari para guru agar proses pendidikan tetap berjalan di tengah keterbatasan.

Hari Guru Nasional juga menjadi momen refleksi bersama bagi pemerintah dan masyarakat. Evaluasi terhadap kualitas pendidikan, kesejahteraan guru, serta pemerataan akses belajar menjadi hal yang tidak dapat diabaikan. Pendidikan yang bermutu tidak akan terwujud tanpa guru yang kompeten, sejahtera, dan dihargai secara layak. Menghormati guru berarti menghormati pendidikan itu sendiri sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.

Berbagai kegiatan biasanya mewarnai peringatan Hari Guru Nasional, mulai dari upacara bendera, seminar pendidikan, pemberian penghargaan kepada guru berprestasi, hingga kegiatan kreatif di lingkungan sekolah. Aktivitas ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan, tetapi juga sarana motivasi agar guru terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru yang dihargai akan lebih bersemangat dalam mendidik, sementara peserta didik akan tumbuh dengan inspirasi yang kuat.

Pada akhirnya, Hari Guru Nasional mengingatkan kita bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menyalakan cahaya ilmu di setiap sudut negeri. Dengan menghargai dan mendukung guru, kita turut berkontribusi dalam menciptakan generasi penerus yang cerdas, kreatif, berdaya saing, dan berakhlak mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *