PAGAMBIRAN, PADANG | Minggu pagi, 30 November 2025, kabut lembut masih menyelimuti kawasan Pagambiran ketika sekelompok pemuda dari Jalan Intan Perumnas Pagambiran bergerak cepat. Di saat yang sama, para pedagang kue basah dari Pagambiran dan Arai Pinang juga telah bersiap, membawa hasil donasi yang mereka kumpulkan sejak subuh. Tanpa banyak bicara, dua kelompok ini sepakat: bantuan harus sampai hari itu juga ke warga Batu Busuk yang dilanda banjir.
Gerakan ini lahir dari kepekaan yang sederhana—melihat warga di titik banjir mulai kekurangan kebutuhan pokok. Para pemuda dan pedagang kue itu segera menggalang donasi ala kadarnya. Ada yang menyumbang bahan makanan, ada yang menyiapkan kue basah, ada pula yang menawarkan kendaraan untuk mengangkut bantuan. Semua bergerak tanpa menunggu koordinasi resmi.
Saat rombongan tiba di Batu Busuk, pemandangan masih menyisakan lumpur dan puing ringan. Namun alur perjalanan mereka tidak berhenti di satu titik pengumpulan. Para pemuda Jalan Intan dan pedagang kue memilih mendatangi rumah-rumah warga, memastikan bantuan benar-benar diterima langsung oleh mereka yang membutuhkan. Aksi itu dilakukan dengan tenang, penuh empati, dan tanpa keinginan untuk dipublikasikan besar-besaran.
Beberapa warga yang dikunjungi tampak masih kelelahan menghadapi banjir yang merendam pemukiman. Ketika paket sembako dan kue basah diserahkan, senyum pelan muncul dari wajah para penerima. Bantuan itu mungkin tidak besar, tetapi kehadiran mereka membawa rasa bahwa warga Batu Busuk tidak sendirian dalam masa sulit.
Nama-nama pemuda pemudi yang turun langsung antara lain Furqon, Ulan, Yeni, Ami, Resvalina (Ni Res), Vigi, Ria, Taufik, dan Bang Peri. Sementara dari kalangan pedagang kue, beberapa di antaranya bahkan menyiapkan donasi dari dagangan yang seharusnya dijual pagi itu. Bagi mereka, rezeki yang berbagi justru terasa lebih luas manfaatnya.
Aksi kolaboratif ini mendapat apresiasi dari para tokoh setempat. Opriadi (Ketua RW 15), Yulia Suryani (Ketua RT 02), dan Ustadz Adi (Ketua RT 04) menyebut gerakan ini sebagai contoh solidaritas yang patut dijaga. Mereka menilai, kebersamaan warga lintas lingkungan seperti ini menjadi kekuatan moral saat bencana datang tiba-tiba.
Di tengah perjalanan menyalurkan bantuan, para pemuda dan pedagang kue saling melengkapi. Para pemuda fokus pada distribusi dari rumah ke rumah, sementara pedagang kue menawarkan bekal pangan cepat saji yang dapat dimakan langsung oleh warga yang terdampak. Sinergi itu membuat proses penyaluran berlangsung cepat dan tepat sasaran.
Bagi para relawan dadakan itu, aksi ini bukan soal pencitraan, melainkan soal kehadiran. Mereka percaya bahwa bantuan yang menyentuh langsung jauh lebih bermakna bagi warga yang sedang menghadapi kondisi terpuruk. “Yang penting sampai ke tangan orang yang benar-benar butuh,” ujar salah satu pemuda yang terlibat.
Meski banjir menyisakan kerusakan dan duka, hari itu Batu Busuk menerima energi baru—energi dari kepedulian. Gerakan spontan tanpa komando, tanpa organisasi formal, namun penuh ketulusan. Kebersamaan antara pemuda Jalan Intan dan pedagang kue menjadi bukti bahwa solidaritas masih hidup di tengah masyarakat.
Kolaborasi pagi itu menegaskan satu hal: di saat bencana datang, kekuatan yang paling cepat muncul bukan berasal dari institusi besar, tetapi dari hati warga biasa yang memilih bergerak bersama.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan dokumentasi aksi kemanusiaan warga dari Pagambiran dan Arai Pinang. Redaksi mengimbau seluruh relawan untuk selalu memperhatikan keselamatan serta berkoordinasi dengan pihak resmi apabila kondisi di lapangan membutuhkan penanganan khusus.
TIM RMO









