BATUSANGKAR | Rabu siang di gazebo Indojolito terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan sekadar agenda penyambutan, melainkan perjumpaan yang sarat makna antara kampung halaman dan anak nagari yang lama berkelana di rantau. Puluhan perantau Ikatan Keluarga Talang Tangah (IKTT) datang membawa satu hal yang sama: rindu yang akhirnya terobati.
Kehangatan langsung terasa saat Bupati Tanah Datar, Eka Putra, hadir menyambut mereka. Ia tidak sendiri. Ketua DPRD Anton Yondra, Camat Sungai Tarab Mulkhairi, hingga Wali Nagari Talang Tangah ikut berdiri bersama, seakan menunjukkan bahwa kepulangan ini bukan peristiwa biasa, tetapi momen penting bagi daerah dan masyarakatnya.
Bagi para perantau, pulang menjelang Idul Fitri bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah perjalanan hati—kembali ke akar, merajut kembali silaturahmi yang sempat terpisah oleh jarak dan waktu. Talang Tangah bukan hanya titik di peta, tetapi ruang kenangan yang selalu memanggil untuk kembali.
Rasa haru tak bisa disembunyikan oleh Ketua Pelaksana, Randi Eka Saputra. Ia mengungkapkan apresiasi mendalam atas sambutan yang diberikan pemerintah daerah, khususnya perhatian langsung dari Bupati Tanah Datar.
“Ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. Disambut langsung oleh bapak Bupati adalah sebuah kehormatan. Semoga kebersamaan ini terus terjaga dan semakin erat ke depannya,” ujarnya.
Perasaan serupa juga disampaikan Dulmius yang mewakili para perantau. Baginya, kehadiran kepala daerah di tengah padatnya aktivitas adalah bentuk kepedulian yang sangat berarti.
“Kami sangat bersyukur. Ini menjadi motivasi bagi kami di rantau. InsyaAllah, setelah salat Idul Fitri nanti, akan lebih banyak lagi yang pulang. Sebagian besar dari kami adalah pedagang kaki lima, jadi menyesuaikan waktu,” tuturnya.
Di balik momen emosional itu, tersimpan potensi besar yang sering kali tak terlihat. Ketua DPRD Anton Yondra menegaskan bahwa para perantau adalah kekuatan penting bagi pembangunan daerah, tidak hanya secara sosial, tetapi juga ekonomi.
“Perantau membawa dampak nyata. Perputaran uang dari rantau ke kampung halaman sangat besar—mulai dari kiriman untuk keluarga hingga aktivitas belanja yang menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya.
Bupati Eka Putra pun menyampaikan sambutan dengan nada hangat dan penuh perhatian. Ia menyapa para perantau yang telah tiba, sekaligus mendoakan mereka yang masih dalam perjalanan.
“Selamat datang kembali di kampung halaman. Semoga yang masih di perjalanan diberikan keselamatan hingga sampai tujuan,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hubungan dirinya dengan masyarakat Talang Tangah telah terjalin sejak lama, bahkan sebelum dirinya dipercaya memimpin daerah ini.
“Dukungan dari masyarakat Talang Tangah sudah saya rasakan sejak dulu. Hingga akhirnya saya diberi amanah untuk melanjutkan kepemimpinan di periode kedua. Terima kasih atas kepercayaan itu,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia berharap kepulangan para perantau tidak hanya menjadi ajang temu rindu, tetapi juga membawa dampak positif bagi nagari.
“Jaga silaturahmi, perkuat kebersamaan. Jika ada persoalan di nagari, mari kita cari solusi bersama. Jadilah bagian dari penyelesaian, bukan menambah persoalan,” pesannya.
Suasana akrab yang tercipta di Indojolito hari itu menjadi bukti bahwa hubungan kampung dan rantau tidak pernah benar-benar terputus. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa, dan dalam setiap langkah pulang yang selalu dinanti.
IKTT diharapkan terus menjadi penghubung yang menguatkan ikatan tersebut. Tidak hanya sebagai wadah kekeluargaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu mendorong kemajuan bersama.
Menutup pertemuan, Bupati Eka Putra menyampaikan harapan terbaik bagi seluruh anggota IKTT agar terus solid dan berkembang.
“Semoga IKTT semakin kompak, semakin maju, dan seluruh perantau diberikan kelancaran dalam setiap aktivitasnya,” tutupnya.
Di Indojolito siang itu, yang kembali bukan hanya langkah kaki para perantau. Tetapi juga harapan—bahwa sejauh apa pun perjalanan di rantau, kampung halaman akan selalu menjadi tempat pulang yang paling dirindukan.
NB













