Berita  

Dari Ragu Menjadi Berdaya, Kisah Peserta Pelatihan Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender di Jakarta

JAKARTA | Di tengah hiruk pikuk ibu kota, sebuah ruang belajar yang penuh semangat dan keberanian terbentuk di Aloft Jakarta Wahid Hasyim. Selama lima hari, sejak 6 hingga 10 April 2026, sebanyak 35 peserta dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul dalam satu tujuan yang sama, memperkuat langkah dalam upaya penghapusan kekerasan berbasis gender.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Institut KAPAL Perempuan dengan dukungan Plan Indonesia dan European Union. Pelatihan ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi menjadi ruang transformasi yang mempertemukan pengalaman, pengetahuan, serta komitmen untuk menciptakan perubahan nyata di masyarakat.

Sejak hari pertama, atmosfer pembelajaran terasa berbeda. Para peserta tidak hanya datang membawa latar belakang yang beragam, tetapi juga membawa cerita, luka, dan perjuangan dari daerah masing-masing. Mereka terdiri dari akademisi, praktisi, hingga penggerak komunitas yang selama ini berada di garis depan dalam menangani kasus kekerasan berbasis gender.

Direktur Institut KAPAL Perempuan, Budhis Utami, menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memperkuat perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Menurutnya, pemahaman yang komprehensif terhadap akar persoalan menjadi kunci dalam memutus rantai kekerasan yang kerap tersembunyi di balik norma sosial.

Ia menjelaskan bahwa peserta tidak hanya dibekali teori, tetapi juga keterampilan praktis dalam melakukan advokasi, pendampingan korban, serta penanganan kasus secara komprehensif. Dalam banyak kasus, para pendamping justru berada dalam posisi rentan, menghadapi tekanan hingga ancaman saat membela korban.

“Pelatihan ini juga menyiapkan strategi perlindungan bagi para pendamping. Mereka adalah garda depan yang sering kali tidak terlihat, tetapi memiliki peran yang sangat besar dalam memastikan korban mendapatkan keadilan,” ungkapnya.

Proses menuju pelatihan ini tidaklah mudah. Ratusan pelamar dari 156 kabupaten dan kota di 35 provinsi mengikuti seleksi awal. Dari jumlah tersebut, hanya 53 orang yang berhasil lolos ke tahap pelatihan daring, sebelum akhirnya disaring kembali menjadi 35 peserta yang berkesempatan mengikuti pelatihan secara langsung di Jakarta.

Ketatnya proses seleksi tersebut mencerminkan tingginya minat sekaligus kebutuhan akan peningkatan kapasitas dalam isu kekerasan berbasis gender di Indonesia. Lebih dari sekadar angka, proses ini menjadi bukti bahwa kesadaran kolektif terhadap isu ini terus tumbuh di berbagai daerah.

Salah satu peserta, Ica Khair, mengaku sempat diliputi keraguan saat mengikuti tahap awal pelatihan. Ia merasa para peserta lain memiliki pengalaman dan kapasitas yang jauh lebih tinggi.

Namun, keraguan itu perlahan berubah menjadi semangat. Baginya, ruang pelatihan justru menjadi tempat belajar yang setara, di mana setiap peserta saling menguatkan dan berbagi pengalaman tanpa sekat. Ia menyadari bahwa setiap cerita memiliki nilai dan kontribusi tersendiri dalam perjuangan bersama.

Dari sesi ke sesi, ia mendapatkan banyak perspektif baru, mulai dari strategi penghapusan kekerasan berbasis gender, pendekatan hak asasi manusia, hingga pentingnya menjaga kesejahteraan mental para pendamping. Baginya, pelatihan ini bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang membangun ketahanan diri.

Seluruh peserta mengikuti pelatihan ini tanpa dipungut biaya. Penyelenggara menanggung kebutuhan transportasi, akomodasi, hingga konsumsi selama kegiatan berlangsung, memastikan setiap peserta dapat fokus sepenuhnya dalam proses pembelajaran.

Di akhir kegiatan, yang tersisa bukan hanya materi pelatihan, tetapi juga jaringan solidaritas yang kuat antar peserta. Mereka kembali ke daerah masing-masing dengan membawa misi yang sama, memperkuat upaya penghapusan kekerasan berbasis gender dan menciptakan ruang aman bagi setiap individu.

Pelatihan ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak lahir dari satu suara, melainkan dari keberanian banyak orang yang memilih untuk peduli, belajar, dan bergerak bersama.

TIM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *